Hubungan Durasi Penggunaan Gadget dengan Tingkat Stres pada Mahasiswa Kedokteran

  • Nurfika Octavianti Ikbar Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia
  • Ida Royani Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia
  • Pratiwi Nasir Hamzah Departemen Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia
  • Ilma Khaerina Amaliyah Departemen Psikiatri, Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia
Keywords: Gadget, stres, mahasiswa, intensitas penggunaan

Abstract

Perkembangan teknologi dan meningkatnya penggunaan gadget memberi manfaat seperti mempermudah akses informasi, komunikasi, dan pembelajaran. Namun, penggunaan yang berlebihan juga dikaitkan dengan berbagai dampak negatif, termasuk risiko kecanduan, gangguan tidur, penurunan produktivitas, serta masalah kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan durasi penggunaan gadget dengan tingkat stres pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia angkatan 2023. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan deskriptif analitik pada 181 mahasiswa angkatan 2023. Besar sampel ditentukan berdasarkan perhitungan rumus slovin, sedangkan pemilihan responden dilakukan menggunakan teknik purposive sampling. Variabel bebas adalah durasi penggunaan gadget, sedangkan variabel terikat adalah tingkat stres yang diukur menggunakan Perceived Stress Scale (PSS-10). Durasi penggunaan gadget diukur menggunakan kuesioner berbasis skala Likert. Data dikumpulkan melalui Google Form dan dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan bantuan SPSS. Hasil menunjukkan mayoritas responden menggunakan gadget lebih dari 4 jam per hari. Tingkat stres responden sebagian besar berada pada kategori sedang (75,7%), diikuti kategori rendah dan tinggi. Uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan gadget dan tingkat stres mahasiswa. Hasil ini menunjukkan adanya asosiasi, di mana durasi penggunaan gadget yang lebih lama cenderung berkaitan dengan tingkat stres yang lebih tinggi. Namun, karena desain cross-sectional, penelitian ini tidak dapat menyimpulkan hubungan sebab-akibat, sehingga diperlukan penelitian longitudinal untuk mengonfirmasi arah hubungan tersebut.

Published
2025-12-30
Section
Articles