https://fmj.fk.umi.ac.id/index.php/fmj/issue/feedFakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran2026-01-01T10:36:33+00:00dr. Irna Diyana Kartika Kamaluddinirnadiyanakartika.kamaluddin@umi.ac.idOpen Journal Systems<p>Fakumi Medical Journal: Journal of Medical Students is a scientific publication issued once a month that uses a peer-review system for article selection. Fakumi Medical Journal accepts original research articles (original article/research paper) relevant to the field of Medicine. Fakumi Medical Journal also accepts literature reviews, case reports, in the form of letters to editors in Indonesian or English, provided they have never been published elsewhere. FAKUMI Medical Journal was established in 2021 by the Faculty of Medicine, Muslim University of Indonesia, Makassar with e-ISSN <strong>2808-9146.</strong> When applying for the E-ISSN, Fakumi Medical Journal's publication frequency was monthly, but in 2024 we changed the publication frequency to quarterly (once every 3 months).</p>https://fmj.fk.umi.ac.id/index.php/fmj/article/view/569Tingkat Kepuasan Pasien Instalasi Gawat Darurat terhadap Kualitas Pelayanan Perawat2026-01-01T10:35:46+00:00Andi Saswin Pamesangiandisaswin.1@gmail.comAndi Tenri Sanna Arifuddinanditenrisanna.arifuddin@umi.ac.idTirta Swargatirta.swarga@umi.ac.idEdward Pandu Wiryansyahedward.panduwiryansyah@umi.ac.idRezky Putri Indarwatirezkyputri.abdullah@umi.ac.id<p>Kepuasan pasien dapat didefinisikan sebagai reaksi pasien terhadap berbagai aspek pengalaman pelayanan yang diterima. Penilaian kepuasan pasien memberikan informasi berharga mengenai kualitas perawatan dan mutu pelayanan rumah sakit sehari-hari. Untuk merumuskan kebijakan pelayanan yang efektif, khususnya dalam memberikan layanan berpusat pada pasien, diperlukan analisis terhadap dimensi kualitas pelayanan. Lima dimensi utama yang memengaruhi kualitas layanan di sektor jasa adalah reliability (keandalan), responsiveness (daya tanggap), assurance (jaminan), empathy (empati), dan tangible (bukti fisik), yang secara keseluruhan berkontribusi terhadap tingkat kepuasan pasien. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kepuasan pasien Instalasi Gawat Darurat (IGD) terhadap mutu pelayanan keperawatan di RS Ibnu Sina Makassar dengan menggunakan metode <em>cross sectional</em> dan teknik pengambilan sampel <em>accidental sampling</em>. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berusia 51–60 tahun (28,28%), dengan jumlah pasien laki-laki lebih banyak dibanding perempuan. Sebagian besar responden berpendidikan terakhir SMA (49,49%) dan bekerja pada kategori pekerjaan lainnya (27,27%). Hasil penilaian kepuasan pasien menunjukkan tingkat sangat puas pada dimensi responsiveness (61,66%), assurance (52,52%), tangibles (41,41%), empathy (56,56%), dan reliability (54,54%). Pasien dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung memiliki pengetahuan serta sikap lebih baik dalam menilai mutu pelayanan dan memiliki ekspektasi yang lebih tinggi terhadap kualitas layanan. Kelima dimensi tersebut terbukti berkontribusi terhadap tingkat kepuasan pasien di IGD RS Ibnu Sina Makassar.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Andi Saswin Pamesangi, Andi Tenri Sanna Arifuddin, Tirta Swarga, Edward Pandu Wiryansyah, Rezky Putri Indarwatihttps://fmj.fk.umi.ac.id/index.php/fmj/article/view/573Literature Review: Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ulkus Dekubitus pada Pasien Stroke2026-01-01T10:35:55+00:00Salsabila Erfrosinasalsaerfrosina@gmail.comHermiaty Nasaruddinhermiaty.nasaruddin@umi.ac.idMuhammad Wirawan Harahapwirawan.harahap@umi.ac.idMochammad Erwin Rachmanmochammaderwin.rachman@umi.ac.idBerry Erida Hasbiberryerida.hasbi@umi.ac.id<p>Stroke merupakan salah satu penyakit tidak menular yang sering mengakibatkan komplikasi serius, salah satunya ulkus dekubitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian ulkus dekubitus pada pasien stroke melalui literature review. Data diperoleh dari artikel-artikel yang dipublikasikan dalam jurnal nasional dan internasional antara 2018 hingga 2025. Faktor yang mempengaruhi ulkus dekubitus dibagi menjadi faktor intrinsik dan ekstrinsik, termasuk usia, status gizi, tingkat kesadaran, lama rawat inap, dan frekuensi reposisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut berkaitan dalam meningkatkan risiko ulkus dekubitus pada pasien stroke. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar yang kuat untuk intervensi pencegahan yang lebih efektif dalam perawatan pasien stroke.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Salsabila Erfrosina, Hermiaty Nasaruddin, Muhammad Wirawan Harahap, Mochammad Erwin Rachman, Berry Erida Hasbihttps://fmj.fk.umi.ac.id/index.php/fmj/article/view/575Hubungan Kualitas Tidur dengan Stroke Iskemik di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar2026-01-01T10:36:03+00:00Wira Yudha Tirtawirayudhatirta06@gmail.comHermiaty Nasaruddinhermiaty.nasaruddin@umi.ac.idFadil Mula Putrafadilmula.putra@umi.ad.idMochammad Erwin Rachmanmochammaderwin.rachman@umi.ac.idIlma Khaerina Amaliyah Bilma.khaerina@umi.ac.id<p>Stroke iskemik merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Selain faktor risiko yang dapat dimodifikasi, kualitas tidur menjadi aspek penting yang sering terabaikan pada pasien stroke iskemik. Kualitas tidur buruk pascastroke dapat memengaruhi proses pemulihan fisik maupun mental. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas tidur dan usia pada pasien stroke iskemik di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kualitas tidur buruk pada pasien. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan sampel 23 pasien stroke iskemik yang dirawat di Poliklinik Saraf Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar. Data diperoleh melalui kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan anamnesis faktor risiko stroke. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square untuk menilai hubungan antara usia dan kualitas tidur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien (91,3%) memiliki kualitas tidur buruk, sedangkan hanya 8,7% menunjukkan kualitas tidur baik. Uji Chi-Square memperlihatkan adanya hubungan signifikan antara usia dan kualitas tidur (p = 0,045), di mana usia yang lebih tua cenderung mengalami kualitas tidur yang lebih buruk. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas tidur yang buruk merupakan masalah umum pada pasien stroke iskemik, terutama pada kelompok usia lanjut. Oleh karena itu, perhatian terhadap kualitas tidur perlu menjadi bagian integral dalam manajemen pasien stroke iskemik untuk mendukung pemulihan fisik dan mental yang optimal.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Wira Yudha Tirta, Hermiaty Nasaruddin, Fadil Mula Putra, Mochammad Erwin Rachman, Ilma Khaerina Amaliyah Bhttps://fmj.fk.umi.ac.id/index.php/fmj/article/view/584Karakteristik EKG Perokok dan Non Perokok Pasien Jantung Koroner di Rs Ibnu Sina Makassar2026-01-01T10:36:10+00:00Yusril Iskandaryusriliskandar2210@gmail.comWisudawanwisudawan@umi.ac.idRezky Pratiwi L Basrirezky.pratiwi@umi.ac.idNurhikmawatinurhikmawati@umi.ac.idDahliadahlia@umi.ac.id<p>Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia dan banyak dipengaruhi oleh faktor risiko yang dapat dimodifikasi, salah satunya adalah kebiasaan merokok. Paparan nikotin, karbon monoksida, dan berbagai zat toksik dalam asap rokok dapat mengganggu fungsi endotel dan aliran darah ke otot jantung, yang akhirnya memunculkan perubahan elektrofisiologis yang dapat terdeteksi melalui pemeriksaan elektrokardiogram (EKG). Variasi gambaran EKG pada pasien PJK, khususnya antara perokok dan non-perokok, penting untuk dikaji karena dapat memberikan indikasi awal tingkat keparahan iskemia dan jenis sindrom koroner akut yang dialami. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik EKG pada pasien perokok dan non-perokok dengan diagnosis PJK di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar tahun 2024. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan dokumentasi melalui analisis data sekunder dari rekam medis. Populasi penelitian adalah seluruh pasien PJK tahun 2024, dan sampel diperoleh menggunakan metode total sampling sebanyak 82 pasien. Data meliputi status merokok dan hasil interpretasi EKG, yang kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok perokok mendominasi dengan jumlah 49 pasien, sedangkan non-perokok berjumlah 33 pasien. Baik pada kelompok perokok maupun non-perokok, pola EKG yang paling banyak ditemukan adalah Non-ST Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI), dengan proporsi yang lebih tinggi pada kelompok perokok. Kesimpulannya, mayoritas pasien PJK di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar menunjukkan gambaran EKG berupa NSTEMI, dan temuan tersebut lebih banyak dijumpai pada pasien dengan riwayat merokok. Temuan ini menegaskan bahwa merokok merupakan faktor risiko yang berkontribusi signifikan terhadap perubahan elektrofisiologis jantung dan memperburuk gambaran EKG pada PJK.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Yusril Iskandar, Wisudawan, Rezky Pratiwi L Basri, Nurhikmawati, Dahliahttps://fmj.fk.umi.ac.id/index.php/fmj/article/view/587Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Praktik Istinsyaq pada Pasien Sinusitis2026-01-01T10:36:17+00:00Muhammad Muflih Arafahmuhammadmuflih1206@gmail.comSantriani Hadisantriani.hadi@umi.ac.idZulfitriani Murfatzulfitriani.murfat@umi.ac.idAndi Tenri Sannaanditenrisanna.arifuddin@umi.ac.id<p>Sinusitis merupakan kondisi pada saluran pernapasan atas yang kerap muncul dan dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang. Selain dipicu oleh faktor lingkungan dan infeksi, kebersihan hidung yang tidak optimal juga memperbesar kemungkinan terjadinya sinusitis. <em>Istinsyaq</em>, yaitu tindakan menghirup air ke dalam hidung saat berwudhu dalam ajaran Islam, dianggap mampu membantu menjaga kebersihan rongga hidung serta mencegah timbulnya sinusitis. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara tingkat pengetahuan dan praktik <em>istinsyaq</em> dengan kasus sinusitis. Penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional ini melibatkan 50 responden. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner serta wawancara, kemudian dianalisis memakai uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan tentang istinsyaq dengan derajat gejala sinusitis (p < 0,05). Selain itu, praktik istinsyaq yang baik juga berhubungan secara signifikan dengan derajat gejala sinusitis yang lebih ringan (p < 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa pasien dengan tingkat pengetahuan dan praktik istinsyaq yang lebih baik cenderung memiliki derajat gejala sinusitis yang lebih ringan. Oleh karena itu, edukasi mengenai istinsyaq yang benar dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif dalam penanganan sinusitis, khususnya pada masyarakat Muslim.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Muhammad Muflih Arafah, Santriani Hadi, Zulfitriani Murfat, Andi Tenri Sannahttps://fmj.fk.umi.ac.id/index.php/fmj/article/view/589Hubungan Durasi Penggunaan Gadget dengan Tingkat Stres pada Mahasiswa Kedokteran2026-01-01T10:36:26+00:00Nurfika Octavianti Ikbarnurfikaikbar8@gmail.comIda Royaniida.royani@umi.ac.idPratiwi Nasir Hamzahpratiwinasir.hamzah@umi.ac.idIlma Khaerina Amaliyahilma.khaerina@umi.ac.id<p>Perkembangan teknologi dan meningkatnya penggunaan <em>gadget</em> memberi manfaat seperti mempermudah akses informasi, komunikasi, dan pembelajaran. Namun, penggunaan yang berlebihan juga dikaitkan dengan berbagai dampak negatif, termasuk risiko kecanduan, gangguan tidur, penurunan produktivitas, serta masalah kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan durasi penggunaan <em>gadget</em> dengan tingkat stres pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia angkatan 2023. Penelitian menggunakan desain <em>cross-sectional</em> dengan pendekatan deskriptif analitik pada 181 mahasiswa angkatan 2023. Besar sampel ditentukan berdasarkan perhitungan rumus slovin, sedangkan pemilihan responden dilakukan menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Variabel bebas adalah durasi penggunaan <em>gadget</em>, sedangkan variabel terikat adalah tingkat stres yang diukur menggunakan <em>Perceived Stress Scale</em> (PSS-10). Durasi penggunaan gadget diukur menggunakan kuesioner berbasis skala Likert. Data dikumpulkan melalui <em>Google Form</em> dan dianalisis menggunakan uji <em>Chi-square</em> dengan bantuan SPSS. Hasil menunjukkan mayoritas responden menggunakan <em>gadget</em> lebih dari 4 jam per hari. Tingkat stres responden sebagian besar berada pada kategori sedang (75,7%), diikuti kategori rendah dan tinggi. Uji <em>Chi-square</em> menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan <em>gadget</em> dan tingkat stres mahasiswa. Hasil ini menunjukkan adanya asosiasi, di mana durasi penggunaan <em>gadget</em> yang lebih lama cenderung berkaitan dengan tingkat stres yang lebih tinggi. Namun, karena desain cross-sectional, penelitian ini tidak dapat menyimpulkan hubungan sebab-akibat, sehingga diperlukan penelitian longitudinal untuk mengonfirmasi arah hubungan tersebut.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Nurfika Octavianti Ikbar, Ida Royani, Pratiwi Nasir Hamzah, Ilma Khaerina Amaliyahhttps://fmj.fk.umi.ac.id/index.php/fmj/article/view/601Karakteristik Pasien Retinopati Hipertensi di Klinik JEC Orbita Makassar2026-01-01T10:36:33+00:00Muh Rafly Agungarafly109@gmail.comSri Vitayanisri.vitayani@umi.ac.idNur Aulianur.aulia@umi.ac.idRatih Natasharatihnatasha.maharani@umi.ac.idAndi Masdipaandi.masdipa@umi.ac.id<p>Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan global yang dapat menyebabkan kerusakan organ target, termasuk retina, melalui mekanisme mikrovaskular yang dikenal sebagai retinopati hipertensi. Kondisi ini dapat menimbulkan gangguan penglihatan hingga kebutaan apabila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien retinopati hipertensi di Klinik Utama Mata JEC ORBITA Makassar periode Januari 2023–2025 berdasarkan usia, jenis kelamin, derajat hipertensi, derajat retinopati hipertensi, dan ketajaman penglihatan. Penelitian ini merupakan studi deskriptif observasional dengan rancangan potong lintang menggunakan data sekunder dari 70 rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi karakteristik pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia terbanyak adalah ≥60 tahun (50%), dengan perempuan lebih dominan (64,29%). Berdasarkan derajat hipertensi, sebagian besar pasien berada pada hipertensi derajat 1 (47,14%), sedangkan derajat retinopati hipertensi terbanyak adalah derajat II (35,71%). Sebagian besar pasien memiliki ketajaman penglihatan kategori ringan. Hasil ini menunjukkan bahwa retinopati hipertensi lebih sering terjadi pada kelompok usia lanjut dan perempuan, dengan gangguan penglihatan yang umumnya masih ringan. Oleh karena itu, pemeriksaan funduskopi rutin pada pasien hipertensi dan pengendalian tekanan darah secara teratur sangat penting untuk mencegah progresivitas retinopati hipertensi dan risiko kebutaan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Muh Rafly Agung, Sri Vitayani, Nur Aulia, Ratih Natasha, Andi Masdipa